Jumat, 22 Agustus 2014

23 Agustus 2014

Sekarang aku mengerti, bahwa kita yang dulu kini telah berubah. Walau belum mampu aku untuk mengenang segala kisah yang telah berlalu dengan indah. Entah dimana kamu temukan rumahmu, aku masih saja menunggu bersama khayalan semu . Aku masih saja berharap, bahwa suatu hari nanti kita akan bersama lagi. Aku masih saja ingin, menjadi kita yang sudahlah tidak mungkin. Aku masih saja menanti, padahal segala mimpi-mimpi hanyalah akan menjadi mimpi.

Mungkin memang pada akhirnya harus begini. Kita dipertemukan, diberi kesempatan saling membuat sebanyak mungkin kenangan, lalu dipisahkan. Dipisahkan untuk dipertemukan tuhan dengan yang lebih baik lagi. Sungguh, aku lelah berandai-andai, maka semoga ini terakhir kalinya aku mengingat kita dengan pahit. Semoga esok aku mampu mulai menulis lagu untuk masa depanku sendiri, bait demi bait.

Aku hanya ingin menjadi yang mengingatmu tanpa ada kesal, tanpa ada sesal, yang ada hanya rasa syukur yang menebal. Aku hanya ingin menjadi yang pernah mencicipi rasanya mencintai tanpa harus dapat kembali. Aku hanya ingin menjadi satu-satunya yang masih bisa bersyukur tanpa mengukur -ukur apa yang seharusnya kau berikan secara teratur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar